Search

Thursday, September 12, 2013

11:53 PM
Hingga kini 80% bahan baku rumput laut kering masih diekspor ke luar negeri dari total produksi rumput laut nasional. Tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan memasang target produksi rumput laut kering sebesar 190 ribu ton.

Direktur Usaha dan Investasi Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan I Made W Arthajaya mengatakan besarnya volume ekspor akibat kurangnya sarana fabrikasi pengolahan bahan baku rumput laut tersebut di tanah air.

“Dengan adanya tambahan fabrikasi minimal turunlah dari 80% jadi 60% yang masih diekspor ke luar negeri dalam bentuk bahan baku kering,” ujar I Made di Bali, Rabu (19/6/2013).

Dia menuturkan, saat ini sudah ada tambahan 6 pabrik pengolahan rumput laut di Pandaan, Jawa Timur. Jumlah ini diharapkan bisa mengurangi jumlah ekspor rumput laut ke luar negeri. Hingga saat ini, negara baru mampu mengelola 25%-30% bahan baku kering yang dihasilkan Indonesia.

“Dengan demikian (adanya tambahan fabrikasi) ada delta tambahan 10% bahan baku untuk diolah di dalam negeri. Target kita ya kalau bisa per tahun bisa seperti itu, ada 20% bahan baku kita tahan untuk kita olah di dalam negeri,” jelasnya.

Sementara itu, dengan berkembangnya fabrikasi rumput laut di Indonesia juga diharapkan mampu mengecilkan data mengenai importasi dari karagenan sendiri.

“Indonesia masih mengimpor karagenan 1.400 ton per tahun, hampir 960 ton per tahun mengimpor untuk kepentingan agar,” jelasnya.

Bicara soal investasi, China menjadi investor terbesar untuk rumput laut di Indonesia saat ini. Sementara lewat acara forum investasi tersebut, dia menargetkan bisa meraih investasi sebesar Rp 300 miliar- Rp 400 miliar di sektor perikanan budidaya.

sumber berita: http://bisnis.liputan6.com/read/616807/80-produksi-rumput-laut-ri-masih-diolah-asing

0 comments:

Post a Comment