Search

Thursday, September 12, 2013

11:57 PM


Budidaya rumput laut Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara pesaingnya seperti Filipina dan China. Indonesia dianggap baru masuk dalam tahap pertumbuhan.

Namun seiring upaya keras pelaku di sektor pertanian ini, posisi Indonesia sebagai penghasil rumput laut mulai diperhitungkan dunia. Terbukti dar keputusan penyelenggaraan simposium rumput laut bertaraf internasional yang kali ini mengambil tema ‘Seaweed Science for Sustainable Prosperity’ di Bali, akhir April mendatang.

“Ini merupakan legitimasi dunia,” ujar Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Safari Azis dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/2/2013).

Indonesia pertama kali mengekspor rumput laut kering hasil budidaya jenis Eucheuma spinosum dari pantai Terora, Nusa Dua, Bali pada 1981. Pada 1982, Pemrakarsa rumput laut di Indonesia, Hariadi Adnan, membawa enam kilogram bibit Eucheuma Cottonii dari Filipina yang berkembang sampai sekarang ke hampir seluruh pelosok tanah air.

Indonesia pertama kali melampaui volume produksi rumput laut Filipina pada 2008. Pencapaian ini membuat International Seaweed Association (ISA) pada International Seaweed Symposium ke-20 di Meksiko memutuskan bahwa Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan International Seaweed Symposium 2013.

Dengan sejumlah perkembangan yang ada, ARLI mengusulkan perlunya penataan pola dan strategi pengembangan rumput laut nasional. Selama ini diakui, evaluasi industri pengolahan yang telah dan akan dibangun oleh pemerintah di beberapa daerah dibuat tanpa perencanaan dan studi kelayakan yang matang.

ARLI juga menyesalkan belum adanya tindak lanjut pemerintah terhadap usulan pembuatan Peta Jalan Rumput Laut Naisonal yang sudah sejak lama diusulkan. Padahal, Indonesia berpeluang menjadi negara terkemuka di bidang rumput laut. (SPC-20/liputan6)

Sumber berita: http://suarapengusaha.com/2013/02/04/pengusaha-industri-rumput-laut-indonesia-tertinggal-dari-filipina-china/

0 comments:

Post a Comment