Search

Tuesday, November 26, 2013

6:52 PM
Masyarakat pesisir pantai di pantura Jawa Tengah dan Jawa Timur kini memiliki peluang bisnis baru untuk meningkatkan kesejahteraannya. Secara turun-temurun hanya mengandalkan hasil menangkap ikan, sekarang para nelayan dan petani tambak di daerah itu punya tambahan usaha dengan mengembangkan budi daya rumput laut yang secara ekonomis tidak kalah dari penghasilan utamanya.

Itu berawal dari uji coba yang dilakukan oleh tim ahli, tiga dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Drs Tabrani, MM (ketua), Ir Kusnandar, MSi, Budi Kurniawan, SPI, MSi (anggota), dan dibantu para sukarelawan anggota pos pemberdayaan keluarga (posdaya) di Desa Randusanga Wetan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Uji coba itu berakhir sukses dengan pembudidayaan rumput laut jenis glacilaria secara masif.

Budi daya rumput laut glacilaria juga telah ditetapkan menjadi bagian dari mata kuliah unggulan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UPS. "Kita ingin rumput laut glacilaria ini bisa go international, menjadi komoditas ekspor, sehingga kesejahteraan petani tambak di pesisir pantura Jawa Tengah meningkat," ujar Rektor UPS Prof Dr Wahyono di sela-sela seminar internasional bertemakan "Konsep Blue Economy dalam Industri Kelautan dan Perikanan" di Hotel Karlita International, Jalan Yos Sudarso, Tegal, Selasa (26/11).

Program itu wujud dari tanggung jawab sosial kalangan perguruan tinggi terhadap masyarakat di sekitarnya. Apa alasan memilih bidang budi daya rumput laut itu menjadi unggulan UPS? "Karakteristik dan potensi sumber daya alam di pesisir pantura Jawa Tengah, khususnya pantai di Tegal, besar sekali. Pantai dan tambak yang ada di wilayah ini cukup luas, sehingga budi daya rumput laut jenis glacilaria sangat menjanjikan. Sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Australia tertarik untuk membeli hasil budi daya rumput laut ini," kata Wahyono. Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono mendukung penuh budi daya rumput laut gracilaria yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Randusanga Wetan, Brebes.

"Kita telah mengundang Pak Tabrani dan timnya untuk menularkan ilmunya, membudidayakan rumput laut jenis glacilaria bagi warga nelayan dan petani tambak di pantai Pacitan, Kulonprogo, dan Indramayu. Alhamdulillah berhasil. Rumput laut glacilaria tumbuh dengan baik di air payau pantai Pacitan. Petani di sana saat ini sudah panen. Hasil penjualan rumput laut mencapai nilai puluhan juta rupiah. "Penghasilan yang besar dan belum pernah diperoleh sebelumnya," kata Haryono Suyono saat menjadi pembicara seminar yang diikuti berbagai instansi pemerintah dan delegasi dari Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Australia.Karena mudahnya budi daya dan besarnya peluang bisnis rumput laut, maka Haryono Suyono telah mengajak 15 bupati di pesisir pantura Jawa Timur agar mendorong warganya melakukan budi daya rumput laut.

"Ada lima belas bupati di pantura Jawa Tengah dan Jawa Timur menyatakan kesanggupannya memfasilitasi warganya untuk budi daya rumput laut glacilaria. Ini menjadi peluang bagi para kepala daerah tersebut (untuk) memfasilitasi warganya. Yayasan Damandiri bekerja sama dengan UPS Tegal siap mengirim bibit rumput laut ke daerah-daerah yang mengajukan permintaan," tutur Haryono.

Drs Tabrani, MM, yang juga dosen Fakultas Ekonomi UPS Tegal menyatakan siap memberikan secara gratis bibit kepada masyarakat yang ingin mengembangkan budi daya rumput laut glacilaria. "Kita berikan secara gratis bibit rumput laut glacilaria. Silakan datang dan mengambil sendiri ke tambak-tambak kita," ucapnya disambut antusias peserta seminar. Menurut dia, budi daya rumput laut tidak bermodalkan uang dan ilmu yang tinggi-tinggi. "Cukup bermodalkan kemauan kuat dan semangat untuk lebih maju dan meningkatkan kesejahteraan sendiri," katanya.

Menurut Tabrani, keuntungan lain dari budi daya rumput laut adalah menjaga daya dukung lingkungan tambak air payau agar tetap terjaga dengan baik. Rumput laut jenis glacilaria juga mampu mengurangi pencemaran air payau di pantai."Tambak yang ditanami rumput laut berfungsi tumpang sari, sehingga bibit bandeng dan udang yang dibudidayakan menjadi tumbuh lebih sehat dan cepat gemuk. Sementara itu, rumput laut bisa dipanen dalam setiap dua bulan sekali. Harga rumput laut tak pernah turun. Kalau harga dolar Amerika Serikat naik, kami makin senang. Permintaan pasar juga tidak pernah berkurang, bahkan kita selalu kewalahan mengirim pesanan," ucapnya.

Pascapanen rumput laut gracilaria, dilakukan penjemuran hingga kering secara baik, kemudian dapat disimpan di gudang selama satu tahun tanpa berubah kualitasnya. "Tidak ada komoditas ekspor lain yang penanganannya semudah rumput laut," kata Tabrani.

Sebelum pelaksanaan seminar internasional itu, UPS Tegal mengundang belasan lembaga pengabdian masyarakat (LPM) dari berbagai universitas swasta se-Keresidenan Pekalongan untuk mendengarkan paparan soal pentingnya program KKN tematik posdaya dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pencapaian program MDGs dari Haryono Suyono.

Kegiatan itu sekaligus dalam rangka memantapkan persiapan UPS Tegal yang memiliki 25.000 mahasiswa untuk menjadi koordinator KKN tematik posdaya. "Kita siap menjadi koordinator KKN tematik posdaya," kata Wahyono. (Yon Parjiyono)

Sumber Berita: http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/10240/UNGGULAN-UPS-TEGAL-Produksi-Rumput-Laut-Glacilaria-Siap-Go-International/

0 comments:

Post a Comment