Search

Monday, November 11, 2013

4:42 PM


Geliat produksi budidaya kelautan Tarakan, khususnya budidaya rumput laut mendapat perhatian berbagai pihak. Salah satunya dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop-UMKM) Tarakan.

DEDI SUHENDRA

UNTUK mendukung produksi rumput laut tersebut, dinas yang berkantor di Jalan Jenderal Sudirman No. 17 ini mulai gencar melakukan pelatihan, pengolahan rumput laut menjadi bahan olahan, berskala rumah tangga. Dinas yang dipimpin oleh Subono Samsudi ini juga mendatangkan dua ilmuwan kelautan dari Universitas Brawijaya Malang, Teti Estiasih dan Dwi Setjiawati yang akan melakukan pelatihan kepada masyarakat dalam pengolahan berskala rumah tangga namun mampu bersaing di level global.

“Potensi pengembangan rumput laut nasional selama ini telah mampu menggeser potensi perikanan kita. Dari sebelumnya potensi rumput laut Indonesia berada di urutan ketiga setelah potensi kelautan udang dan ikan tuna, kini telah mampu menjadi urutan kedua. Bahkan ikan tuna bergeser ke urutan ketiga dalam urutan potensi kelautan Indonesia,” ujar Subono seraya mengatakan, kelebihan dari rumput laut itu sendiri, ketika dikembangkan dapat menjadi potensi yang sangat besar dari sisi ekonomi. Bahkan dari segi lingkungan, keberadaannya yang mampu menyerap karbondioksida dari udara sangat berperan dalam mengurangi emisi gas karbon.

Kedepan, ada dua sisi yang menjadi target pengembangan rumput laut Tarakan, yakni target pengembangan berskala ekspor, dan target industri berskala besar. Sementara yang keluar dari target itu, akan dilakukan pengembangan berskala home industries. “Yang menjadi masalah, selama kita melakukan pelatihan pengolahan rumput laut dengan pihak berbeda dan sistem berbeda, outputnya tetap sangat minim. Sejauh ini baru ada dua pengrajin yang mau mengolah rumput laut menjadi makanan,” urainya.

Sementara itu, Teti Estiasih, salah satu ilmuwan dari Universitas Brawijaya Malang menyebutkan, pelatihan pengembangan usaha rumput laut di Tarakan memiliki dua arah pembinaan. “Salah satunya pengolahan rumput laut menjadi karaginan yang dikembangkan oleh masyarakat berskala usaha kecil menengah serta home industries. Untuk skala rumahan, pengolahan rumput laut menjadi makanan yang dapat langsung dipasarkan,” jelasnya seraya menyebutkan salah satu produk olahan rumput laut siap makan itu antara lain dodol, kerupuk, minuman dan jenang. “Pengolahan rumput laut, menjadi dodol, kerupuk, minuman dan lainnya yang kami ajarkan dapat diproduksi dalam skala rumah tangga, tanpa memerlukan peralatan dan investasi yang besar,” tambahnya.

Kelebihan produk penganan dari rumput laut itu, utamanya kerupuk, mampu bertahan lama tanpa memerlukan tambahan bahan pengawet. Sementara untuk olahan minuman rumput laut, Teti memperkenalkan teknologi sterilisasi yang nantinya mampu bertahan hingga enam bulan. “Dalam pelatihan ini kami ajarkan juga bagaimana membuat dodol rumput laut yang tidak mudah rusak dan mampu bertahan lama, namun tidak mengabaikan peraturan menteri kesehatan terjaut penyalahgunaan pengunaan bahan berbahaya,” ulasnya.

Dijelaskan Teti, pengolahan rumput laut menjadi makanan siap dipasarkan berskala rumah tangga ini, sebelumnya diimplementasikan di lingkungan Universitas Brawijaya Malang, wilayah Kota Batu dan Jawa Timur dengan hasil yang positif. “Dari segi potensi, Tarakan memiliki bahan baku rumput laut yang sangat berpotensi untuk dikembangkan,” ucapnya.

Bahkan tak menutup kemungkinan rumput laut menjadi produk unggulan Kota Tarakan. Meskipun sebatas industri kecil, namun saat semua kegiatan pengolahannya distandarkan dan mengikuti SOP (Standard Operational Procedure) sehingga dapat memiliki kualitas yang baik. “Ketika kita ingin bersaing dari segi proses dan produk, harus ada kualitas. Hasil olahan rumput laut menjadi karaginan, produk yang mendunia,” timpal Dwi Setijawati.

Karaginan adalah salah satu hasil olahan rumput laut kering. Karaginan merupakan senyawa komplek polisakarida yang tersusun dari unit D-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1-4 glikosilik. Setiap unit galaktosa mengikat gugusan sulfat.(***)

Sumber berita:  http://www.radartarakan.co.id/index.php/kategori/detail/Kaltara/47505

0 comments:

Post a Comment