Search

Thursday, October 10, 2013

11:35 PM
TEMPO.CO, Makassar - Harga rumput laut diprediksi bisa menembus Rp 20 ribu per kilogram jika kondisi rupiah terus melemah. Kondisi serupa pernah terjadi ketika krisis finansial melanda Indonesia pada 2007 silam.



"Karena kebutuhan rumput laut sangat tinggi, harga rumput laut di pasar internasional sudah US$ 2 per kilogram," kata Direktur CV Bandanaira Izra Prasetya kepada Tempo, Rabu, 28 Agustus 2013.

Menurut Izra, rumput laut yang harganya bakal melonjak ini adalah jenis Cottonii. Rumput laut jenis ini bisa menghasilkan lebih dari 500 produk, termasuk bahan baku kosmetik dan bahan untuk komponen pesawat terbang.

"Biasanya diekspor ke Cina dan Filipina," katanya. Meski harganya tinggi, kata Izra, keuntungan tidak akan terlalu dirasakan oleh petani. Pasalnya, perdagangan rumput laut lebih banyak dikendalikan oleh tengkulak.

"Petani pun tidak bisa menjual ke tempat lain karena para tengkulak sudah membayar duluan melalui pinjaman modal usaha, seperti bibit dan tali," kata Izra.

Sistem resi gudang yang diterapkan pemerintah juga tidak mampu membantu petani karena letaknya jauh dari lokasi petani rumput laut. "Jadi yang memanfaatkan resi gudang hanya para tengkulak," kata Izra.

Izra berharap agar petani rumput laut di Indonesia bisa lebih independen seperti petani di Amerika. Di sana, petani berhak memutuskan harga komoditas yang akan dijual. Untuk itu pemerintah harus membantu petani dengan cara mendirikan bank pertanian. Sebab, petani jadi bisa meminjam modal kerja dengan lahan sebagai jaminan.

Sumber berita: http://www.tempo.co/read/news/2013/08/28/092508247/Harga-Rumput-Laut-Bisa-Rp-20-Ribu-per-Kilogram

0 comments:

Post a Comment